Membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk sama dengan membaca tiga novel sekaligus. Ronngeng Dukuh Paruk merupakan penyatuan dari novel Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.
Tradisi Ronggeng yang Menyakitkan
Tokoh Srintil menjadi pusat cerita ketika ia dipilihan menjadi ronggeng baru setelah Dukuh Paruk lama kehilangan sosok ronggeng akibat tragedi tempe bongkrek. Dari awal cerita saya merasakan suasana yang tidak nyaman dan menyedihkan. Tradisi ronggeng Dukuh Paruk yang mengaggap ronggeng adalah objek pemuas nafsu membuat hati pembacanya teriris.
Melalui ritual bukak klambu, bagaimana Ronggeng tidak hanya menari tetapi tubuh seorang ronggeng dianggap milik umum. Srintil yang masih sangat muda harus menyerahkan dirinya kepada laki - laki yang mampu membayar demi mengukuhkan statusnya sebagai ronggeng. Saat membaca ini saya merasa Srintil sudah tidak memiliki kebebasan atas hidup dan tubuhnya.
Rasus dan Perlawanan Terhadap Tradisi
Politik dan Kebodohan Masyarakat
Warga Dukuh Paruk dijebak oleh Bakar, seorang kader PKI yang memanfaatkan ronggeng sebagai kendaraan politiknya. Warga Dukuh Paruk terjerumus dikarenakan kurangnya pendidikan dan pengetahuannya tentang politik merupakan sentilan bagaimana politik dapat memanfaatkan kebodohan demi kepentingan suatu golongan.
Bagian ini menurut saya menjadi kritik sosial paling kuat dalam novel. Ahmad Tohari munjukan bahwa orang - orang kecil seringkali menjadi korban keadaan politik yang bahkan tidak mereka pahami.
Perubahan Srintil
Kehidupan Srintil berubah setelah menjalani masa hukuman 2 tahun penjara. Srintil yang dahulu riang dan penuh semangat kini perlahan berubah menjadi sosok yang pemurung dan menyimpan perasaan trauma yang dalam.
Di tengah keterpurukannya Srintil sempat mendapatkan harapan baru melalui Bajus. Pada bagian ini tergambarkan seorang Srintil yang ingin meninggalkan citranya menjadi ronggeng dan menjadi perempuan normal seutuhnya.
Namun harapan itu kembali hancur ketika bajus ternyata hanya memanfatkan dirinya demi kepentingan karir. Saat membaca bagian ini, saya benar - benar merasakan kekecewaan Srintil. Harapan yang selama ini ia dambakan justru berubah menjadi luka baru yang sangat dalam bagi dirinya.
Penutup
Bagi saya, Novel Ronggeng Dukuh Paruk menggambarkan kehidupan masyarakat kecil dengan bahasa yang sederhana dan suana Dukuh Paruk yang terasa hidup dan begitu emosional. Novel ini bukan hanya tentang ronggeng atau kisah cinta Srintil dan Rasus, tetapi bagaimana tradisi, kemiskinan dan politik dapat menghancurkan hodup seseorang secara perlahan.

0 Comments